ASAL nama INDONESIA, berasal dari bahasa Latin yaitu Indus yang berarti
"Hindia" dan bahasa Yunani nesos yang berarti "pulau". Indonesia berarti
wilayah
Hindia kepulauan, atau kepulauan di Hindia, nama ini terbentuk jauh
sebelum Indonesia menjadi
negara berdaulat. Majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian
Archipelago and Eastern Asia
(JIAEA), dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang
Skotlandia sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Pada salah satu
artikel majalah tersebut pada tahun 1849 oleh seorang ahli etnologi
George
Samuel Windsor Earl
menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia /
Melayu untuk memiliki nama khas (a
distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering
rancu dengan penyebutan INDIA. Earl mengajukan dua pilihan nama:
Indunesia
atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti
pulau). Earl
sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia
(Kepulauan Melayu) daripada Indunesia
(Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia
sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia
bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa).
Lagi pula,
kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini.
James Richardson Logan menulis artikel The
Ethnology of the Indian Archipelagoournal and Eastern Asia No. 4, tahun 1850, pada awal tulisannya, Logan menyatakan
perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian
Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memunggut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf
u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah ISTILAH Indonesia.
Pada
tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin
yang bernama Adolf Bastian menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel
sebanyak lima
volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita
tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah
“Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa
istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian.
Putra
ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi
Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913
beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau. Makna politis Pada dasawarsa
1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan
geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air
kita, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu
identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Akibatnya pemerintah
Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.
Pada tahun
1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi
Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri
Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau
Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi
Indonesia Merdeka. Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, “Negara Indonesia
Merdeka yang akan datang (de toekomstige
vrije Indonesische staat) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga
tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli.
Bagi kami nama Indonesia
menyatakan suatu tujuan politik (een
politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah
air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala
tenaga dan kemampuannya.” Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun
1924.
“Indonesia” dinobatkan
sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan
Pemoeda-Pemoedi Indonesia
tanggal 28 Oktober 1928, yang disebut Sumpah Pemuda. Pada bulan Agustus
1939 tiga orang anggota Volksraad
(Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho
Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada
Pemerintah
Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama
“Nederlandsch-Indie”, mosi ini ditolak
mentah-mentah. Atas kehendak Allah Tuhan YME tanah air kita
jatuh ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia
Belanda”. kemudian pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat
Allah / Tuhan YME, lahirlah Republik Indonesia. Silahkan menambahkan ...
"Hindia" dan bahasa Yunani nesos yang berarti "pulau". Indonesia berarti
wilayah
Hindia kepulauan, atau kepulauan di Hindia, nama ini terbentuk jauh
sebelum Indonesia menjadi
negara berdaulat. Majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian
Archipelago and Eastern Asia
(JIAEA), dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang
Skotlandia sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Pada salah satu
artikel majalah tersebut pada tahun 1849 oleh seorang ahli etnologi
George
Samuel Windsor Earl
menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia /
Melayu untuk memiliki nama khas (a
distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering
rancu dengan penyebutan INDIA. Earl mengajukan dua pilihan nama:
Indunesia
atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti
pulau). Earl
sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia
(Kepulauan Melayu) daripada Indunesia
(Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia
sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia
bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa).
Lagi pula,
kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini.
James Richardson Logan menulis artikel The
Ethnology of the Indian Archipelagoournal and Eastern Asia No. 4, tahun 1850, pada awal tulisannya, Logan menyatakan
perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian
Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memunggut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf
u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah ISTILAH Indonesia.
Pada
tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin
yang bernama Adolf Bastian menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel
sebanyak lima
volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita
tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah
“Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa
istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian.
Putra
ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi
Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913
beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau. Makna politis Pada dasawarsa
1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan
geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air
kita, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu
identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Akibatnya pemerintah
Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.
Pada tahun
1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi
Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri
Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau
Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi
Indonesia Merdeka. Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, “Negara Indonesia
Merdeka yang akan datang (de toekomstige
vrije Indonesische staat) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga
tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli.
Bagi kami nama Indonesia
menyatakan suatu tujuan politik (een
politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah
air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala
tenaga dan kemampuannya.” Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun
1924.
“Indonesia” dinobatkan
sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan
Pemoeda-Pemoedi Indonesia
tanggal 28 Oktober 1928, yang disebut Sumpah Pemuda. Pada bulan Agustus
1939 tiga orang anggota Volksraad
(Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho
Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada
Pemerintah
Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama
“Nederlandsch-Indie”, mosi ini ditolak
mentah-mentah. Atas kehendak Allah Tuhan YME tanah air kita
jatuh ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia
Belanda”. kemudian pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat
Allah / Tuhan YME, lahirlah Republik Indonesia. Silahkan menambahkan ...
TERIMA KASIH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar